#Perkenalan Bulan
Di tengah keramaian malam… Surya tidak hilang namun membias
di wajah rembulan.
“Hai… saya
Bulan…”, sapa si cantik sambi membaca jampi-jampi agar aset nya laris di malam
ini.
“Awan...”, sapa sang lelaki
dengan sorot mata yang liar dan lapar, siap memangsa apapun yang ditawarkan…………
Aura scarlet yang menyeruak kegaduhan malam… Aroma
parfum dari A sampai Z yang tak menentu menjadi saksi bisu tansaksi birahi dua
petualang ini. Rupiah dijejalkan kemudi dijalankan, sebuah hotel berbintang
tiga lah tujuan mereka.
Sang pejantan membooking dan satunya hanya berdiri anggun
menanti sambil mengamati sekitar. Mereka melangkah ditemani orang ketiga, yang
tak lain sang penunjuk jalan menuju medan pertempuran. Dan pintu pun dibuka…
Birahi…
Pergulatan…
Bathin…
Bukan…
Cinta…
Birahi…
Ya…
Di tengah keramaian malam… Surya tidak hilang namun membias di wajah rembulan.
Ditengah pergulatan itu...
Desahan antara rasa sakit yang nikmat, dan rasa nikmat yang sakit, keduanya melelehkan peluh dan pejuh. Goncangan di ranjang itu, raungan diantara desahan, binal, nakal, dan tanpa sesal .... Dan . . . . .
Di tengah keramaian malam… Surya tidak hilang namun membias di wajah rembulan.
Ditengah pergulatan itu...
Desahan antara rasa sakit yang nikmat, dan rasa nikmat yang sakit, keduanya melelehkan peluh dan pejuh. Goncangan di ranjang itu, raungan diantara desahan, binal, nakal, dan tanpa sesal .... Dan . . . . .
Ya...
Birahi…
Semata…
Bukan…
Wayang….
Di tengah keramaian malam… Surya tidak hilang namun membias
di wajah rembulan.
Dan ketika malam ditendang pagi…..
Bulan terbangun dari lelapnya, ia
kecup kening sang pejantan dan dirogohnya dompet pria itu kemudian diambilnya
beberapa lembar ratus ribuan.
“Cukup untuk hari ini”, Bisiknya
dalam hati.
Semalam terjadi apa
yang telah diperkiakan, sisa-sisanya rapi tak bebekas.
“Everything
is under control.”, Bulan mengenakan semua yang ia lepaskan, melangkah keluar,
tanpa ucapan “terimakasih…dan…selamat tinggal.”
Di kala pagi... Surya tidak menjelma melainkan memancarkan pesona dan kehidupan bagi yang memerlukannya....
"Papa pulang...."
#Perkenalan Surya
Ketika hari berganti… Surya tidak menghilangkan Bulan namun membiaskannya dalam cahayanya ...Ketika pagi menjelang di ruang makan...
"Makan dulu pa ..." Istriku bertanyarasa ingin tahunya.
"Iya ma ..." aku beranjak walau sedikit malas,
"Tadi malam kemana?"
"Nemenin Awan jalan"
"Awan siapa?"
"Rekan Bisnis"
"O..." Istriku meng-O-kan sambil memberikan anggukan pertanda kepuasan
Awan rekan bisnisku. Baru tadi malam aku mengenalnya dan bisnispun berakhir dengan simbiosis mutualisme dan sedikit pofit lebih untuku. Aku tidak berharap bisnis dengan Awan berlangsung lama. Aku berharap menemukan partner bisnis lain yang lebih profitable. Sangat manusiawi ketika manusia beharap lebih, bukan?
Dan tidak ada yang salah dengan hal itu, bahkan untuk mewujudkannya sekalipun. Yang salah adalah ketika salah satu pihak dirugikan. Dan untuk bisnis ku ini, tidak ada yang dirugikan... Ya, aku yakin tidak ada.
Ketika hari berganti... Surya tidak menghilangkan Bulan namun membiaskanya dalam cahayanya...
Ketika pagi adalah awal dari sebuah aktivitas...
Aku melangkahkan kaki ku menuju tampat ku mengais rupiah. Seketarisku menyodorkan segelintir jadwal yang harus kulakukan, dua meeting dan tiga berkas yang harus kutanda tangani hari ini.
Silence is the one and only thing could be described... It was a sudden moment I wish never happened in my entire days.
Aku melangkahkan kaki ku menuju tampat ku mengais rupiah. Seketarisku menyodorkan segelintir jadwal yang harus kulakukan, dua meeting dan tiga berkas yang harus kutanda tangani hari ini.
"Jam 2 siang nanti Bapak harus ke Café Almond untuk bertemu perwakilan dari PT. Orangeland untuk membahas masalah pembebasan tanah untuk proyek Real Estate.", sekretaisku membeberkan bla... bla... bla...Dan ketika jarum panjang arlojiu menunjukan setengah jam menjelang pertemuan pentingku itu. Akupun melajukan kendaraanku menuju tempat yang ku maksud. Aku terbiasa menangani klienku sendiri, bukan apa-apa, aku merasa kehadiran sekretarisku malah membuatku kurang nyaman. Dan sopir, aku tidak perlu sopir, memegang kemudi adalah salah satu hobby-ku.
"O.K.", Jawabku singkat.
Ketika hari berganti... Surya tidak menghilangkan bulan namun membiaskanya dalam cahayanya...
Ketika aku mencapai lokasi petemuan itu...
"Lho...Kamu...?!"
"Kamu...?!"
Silence is the one and only thing could be described... It was a sudden moment I wish never happened in my entire days.
ilustrasi:
© Purna Adhiyasa Supriadi

Hehehe... Over all, Nice..
BalasHapusBut, why don't you just show 'explicitely' up concerning the sex scene? Who got most sexual pleasure then?
baru prolog kok min.... Hehehe
BalasHapusopeningnya sukaaaaaa. ceritanya sekilas udah nangkep tapi kebanyakan kata kiasan,hehehe (mungkin aku bukan tipe pembaca tulisan yg berat kali ya,hehehe)
BalasHapusI don't want to guess about "what will happen next" because any possibility could happen, and also I don't want to expect much--just really expecting it flows smoothy.
BalasHapus