LOVE MAY HEAL | LOVE MAY KILL
by: Purna Adhiyasa Supriadi
Part
9 (End)
Kubiarkan kau menelanjangi emosiku...
Kubiarkan kau melihat alirat sungai air mataku...
Kubiarkan kau mendengar setiap isakan ku...
Kubiarkan kau merasakan aura kesedihan yang terpancar dariku...
Kubiarkan kau menyentuh pundakku...
Semua karena sebenarnya aku meninginkannya...
karena sebenarnya aku membutuhkannya...
"Aku
tahu dari personalia, katanya kamu memperpanjang cutimu dengan alasan
ini...", Pak Ridwan memulai percakapan setelah dirasanya isakanku mulai
mereda.
"Maaf, aku meminta alamatmu tanpa sepengetahuanmu..."
"ma...maaf pak", aku menjawabnya dengan tatapan mata yang masih mengarah ke pusara yang masih basah.
"kamu
tidak peru meminta maaf Tedy, kecuali untuk satu hal....", pak Ridwan
tidak melanjutkan kalimatnya dan membuat aku sedikit bertanya..aku tidak
suka..
"kamu tidak memberitahu ku Tedi...kamu mencurangiku.", lanjutnya pelan.
"mencurangi..." aku mengulang kata terakhirnya dengan pelan...
"ya mencurangi...", tegas nya...
"aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi harus sekarang Tedy, atau tidak sama sekali!"
....
Semua yang dikatakannya membuatku semakin bingung... Aku belum bisa menebak kemana pembicaraan ini diarahkannya.
"kamu
tidak sadar tedy... semenjak kamu masuk dan duduk di tempat persis
didepan ruanganku, kamu telah menodongku dengan wujudmu, mengikatku
dengan pesonamu, dan memejarakanku dalam suatu harapan Tedi!",
"aku menyayangi mu Tedi....", suaranya yang lirih namun tegas mengucapkannya dengan pasti.
Seolah aku ditikam dengan belati berlumur cinta...
Seakan aku terhunus busur beracun yang dibuat dari metal terkuat sehingga mampu meruntuhkan benteng pertahananku...
Mematikan, namun sekali lagi...sebenarnya aku menginginkannya....
"tapi
pak....", Ridwan menahanku untuk melanjutkan kemunafikanku, bukan
dengan telunjuknya atau telapak tangannya yang membekapku, namun
kediamannya yang membuatku gugup.
"Jangan menolak jika itu hanya
suatu kebohongan Tedi... Aku yakin kamu sebenarnya tau apa yang aku
rasakan, dan katakan aku mengetahui apa yang sebenarnya kamu
inginkan...",
Tuhan.... semuanya serba mendadak... apa yang sebenarnya kau ingin perlihatkan padaku?
Aku masih mngarahkan pandanganku kearah pusara ibu dan ayahku...
"Aku masih belum sendiri ayah... ibu...", aku berkata tanpa bersuara.
Aku belum berani menoleh... Aku belum siap membiarkannya melihat tatapanku yang akan berkata: "YA" tanpa harus aku ucapkan.
"kamu tidak perlu menjawab Tedi, karena kediamanmu dan bahasa tubuhmu telah memberikan jawabannya."
Aku berbalik... Dia mendekapku... Tak kuasa menahan tangis, derai air mata kembali melaju...
Sejenak
kupejamkan mata, dan berharap apa yang baru saja kudengar dan kualami
bukan mimpi yang akan hilang ketika aku membuka kelopak mataku... Bukan
khayal yang sirna ketika aku tersadar...
Jauh dibalik pepohonan kamboja bermeter-meter jaraknya...
Sepasang orang tua tersenyum melihat bahwa anaknya tidak sendiri...
Bahwa tugas mereka telah ada yang melanjutkan...
Mereka melangkah menjauh diiringi cahaya cinta dan
dihiasi rona asmara yang kuncupnya mulai merekah...
Love may heal every wound people felt...
And love may kill loneliness which may come to everyone...
No matter how strong he is...
No matter what he can do...
~~~ dan kisah pun berakhir dengan sebuah awal yang baru ~~~