Wilkomen

WILKOMEN | WELCOME | BIENVENUE | イラッシャイマセ

Jumat, 01 November 2013

Dalam Sebuah Renungan

"DALAM SEBUAH RENUNGAN"

Kebahagiaan semu adalah ketika kita dihadapkan pada sebuah wujud.
Harta yang akan habis.
Rupa yang akan mengeriput.
Raga yang akan renta.
Tahta yang akan jatuh.
Ilmu yang akan lupa.
Duniawi... Duniawi...

Yang tidak akan hilang adalah. Bahwa kita memiliki NAMA.
Nama dari seorang yang sering membuat orang tersenyum,
yang sering menawarkan pertolongan semampunya,
yang sering melakukan yang terbaik dalam hidupnya,
seseorang yang sering bersyukur atas setiap nikmat yang diberikan tuhannya,
seseorang yang tidak pernah melontarkan keluh dalam peluh nya,
seseorang yang tidak menggantungkan diri pada nasib,
melihat sekeliling ketika berada di puncak,
dan mencoba mendaki kembali ketika jatuh.

 
Purna Adhiyasa | 01 11 13 

 

Sabtu, 26 Oktober 2013

Lentera Langit | Prologue


   

 

#Perkenalan Bulan






Di tengah keramaian malam… Surya tidak hilang namun membias di wajah  rembulan.


            “Hai… saya Bulan…”, sapa si cantik sambi membaca jampi-jampi agar aset nya laris di malam ini.


“Awan...”, sapa sang lelaki dengan sorot mata yang liar dan lapar, siap memangsa apapun yang ditawarkan…………


Aura scarlet yang menyeruak kegaduhan malam… Aroma parfum dari A sampai Z yang tak menentu menjadi saksi bisu tansaksi birahi dua petualang ini. Rupiah dijejalkan kemudi dijalankan, sebuah hotel berbintang tiga lah tujuan mereka.


Sang pejantan membooking dan satunya hanya berdiri anggun menanti sambil mengamati sekitar. Mereka melangkah ditemani orang ketiga, yang tak lain sang penunjuk jalan menuju medan pertempuran. Dan pintu pun dibuka…





Birahi…



        Pergulatan…



                     Bathin…



                             Bukan…



                                       Cinta…



                                                 Birahi…



                                                            Ya…

Di tengah keramaian malam… Surya tidak hilang namun membias di wajah  rembulan.
Ditengah pergulatan itu... 
Desahan antara rasa sakit yang nikmat, dan rasa nikmat yang sakit, keduanya melelehkan peluh dan pejuh. Goncangan di ranjang itu, raungan diantara desahan, binal, nakal, dan tanpa sesal .... Dan . . . . . 



                                                                    
                                                                   Ya...                                                                   

                                                                       Birahi…

  

                                                                               Semata…


                                                                                         Bukan…



                                                                                                  Wayang….              







Di tengah keramaian malam… Surya tidak hilang namun membias di wajah  rembulan.

Dan ketika malam ditendang pagi…..

Bulan terbangun dari lelapnya, ia kecup kening sang pejantan dan dirogohnya dompet pria itu kemudian diambilnya beberapa lembar ratus ribuan.

“Cukup untuk hari ini”, Bisiknya dalam  hati.

Semalam  terjadi apa yang telah diperkiakan, sisa-sisanya rapi tak bebekas.

            “Everything is under control.”, Bulan mengenakan semua yang ia lepaskan, melangkah keluar, tanpa ucapan “terimakasih…dan…selamat tinggal.”

Di kala pagi... Surya tidak menjelma melainkan memancarkan pesona dan kehidupan bagi yang memerlukannya....

"Papa pulang...."













#Perkenalan Surya 















Ketika hari berganti… Surya tidak menghilangkan Bulan namun membiaskannya dalam cahayanya ...
 Ketika pagi menjelang di ruang makan...

"Makan dulu pa ..." Istriku bertanya
"Iya ma ..." aku beranjak walau sedikit malas,
"Tadi malam kemana?"
"Nemenin Awan jalan"
"Awan siapa?"
"Rekan Bisnis"
"O..." Istriku meng-O-kan sambil memberikan anggukan pertanda kepuasan
rasa ingin tahunya.

Awan rekan bisnisku. Baru tadi malam aku mengenalnya dan bisnispun berakhir dengan simbiosis mutualisme dan sedikit pofit lebih untuku. Aku tidak berharap bisnis dengan Awan berlangsung lama. Aku berharap menemukan partner bisnis lain yang lebih profitable. Sangat manusiawi ketika manusia beharap lebih, bukan?

Dan tidak ada yang salah dengan hal itu, bahkan untuk mewujudkannya sekalipun. Yang salah adalah ketika salah satu pihak dirugikan. Dan untuk bisnis ku ini, tidak ada yang dirugikan... Ya, aku yakin tidak ada.

Ketika hari berganti... Surya tidak menghilangkan Bulan namun membiaskanya dalam cahayanya...
Ketika pagi adalah awal dari sebuah aktivitas...
Aku melangkahkan kaki ku menuju tampat ku mengais rupiah. Seketarisku menyodorkan segelintir jadwal yang harus kulakukan, dua meeting dan tiga berkas yang harus kutanda tangani hari ini.


"Jam 2 siang nanti Bapak harus ke Café Almond untuk bertemu perwakilan dari PT. Orangeland untuk membahas masalah pembebasan tanah untuk proyek Real Estate.", sekretaisku membeberkan bla... bla... bla...
"O.K.", Jawabku singkat.
Dan ketika jarum panjang arlojiu menunjukan setengah jam menjelang pertemuan pentingku itu. Akupun melajukan kendaraanku menuju tempat yang ku maksud. Aku terbiasa menangani klienku sendiri, bukan apa-apa, aku merasa kehadiran sekretarisku malah membuatku kurang nyaman. Dan sopir, aku tidak perlu sopir, memegang kemudi adalah salah satu hobby-ku.


Ketika hari berganti... Surya tidak menghilangkan bulan namun membiaskanya dalam cahayanya...
Ketika aku mencapai lokasi petemuan itu...
"Lho...Kamu...?!"
"Kamu...?!"

Silence is the one and only thing could be described... It was a sudden moment I wish never happened in my entire days. 





ilustrasi:
© Purna Adhiyasa Supriadi

Jumat, 25 Oktober 2013

Untukmu yang Kesekian Kalinya

Ketika malam berselang...
Mentari tidak berpulang...
Namun ia menitipkan terang
Pada rembulan...

Pagi menjemput,
Manusia siap bergelut,
Sibuk memulai demi mengisi perut,
Walau tak sedikit yang beradu sikut,

Ketika siang menjelang…
Gemintang tidak menghilang…
Karena matahari adalah bintang...
Saatnya manusia untuk berperang....

Ketika sore tiba,
Mentari sedikit iba...
Teriknya berkurang seketika...
Menanti malam segera menyapa...

Ketika malam kembali berselang...
Mentari tetap tidak berpulang...
Namun ia sekali lagi menitipkan terang
Pada rembulan yang tak bosan...

Malam tersibak Pagi...
Pagi diselang siang...
Siang dipacu sore...
Sore menjemput malam...

Detik..Menit..Jam..Hari..Minggu..Bulan..Tahun..Dekade..Abad..

Ada yang tidak berubah...

Waktu tidak berjalan kebelakang…

Dan esok selalu tak bisa diduga…

Ada yang sedikit berubah...

Makna cinta bagi yang sekarang...

Jaman merubahnya...

Manusia...

Waktu....

Dan...

Cinta...

Untukmu yang kesekian kalinya

Selasa, 22 Oktober 2013

LOVE MAY HEAL | LOVE MAY KILL - Part 9 (End)

LOVE MAY HEAL | LOVE MAY KILL
by: Purna Adhiyasa Supriadi
Part 9 (End)                                                                                                                                      



Kubiarkan kau menelanjangi emosiku...
Kubiarkan kau melihat alirat sungai air mataku...

Kubiarkan kau mendengar setiap isakan ku...
Kubiarkan kau merasakan aura kesedihan yang terpancar dariku...
Kubiarkan kau menyentuh pundakku...
Semua karena sebenarnya aku meninginkannya...
karena sebenarnya aku membutuhkannya...

"Aku tahu dari personalia, katanya kamu memperpanjang cutimu dengan alasan ini...", Pak Ridwan memulai percakapan setelah dirasanya isakanku mulai mereda.
"Maaf, aku meminta alamatmu tanpa sepengetahuanmu..."
"ma...maaf pak", aku menjawabnya dengan tatapan mata yang masih mengarah ke pusara yang masih basah.
"kamu tidak peru meminta maaf Tedy, kecuali untuk satu hal....", pak Ridwan tidak melanjutkan kalimatnya dan membuat aku sedikit bertanya..aku tidak suka..
"kamu tidak memberitahu ku Tedi...kamu mencurangiku.", lanjutnya pelan.
"mencurangi..." aku mengulang kata terakhirnya dengan pelan...
"ya mencurangi...", tegas nya...
"aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi harus sekarang Tedy, atau tidak sama sekali!"

....

Semua yang dikatakannya membuatku semakin bingung... Aku belum bisa menebak kemana pembicaraan ini diarahkannya.
"kamu tidak sadar tedy... semenjak kamu masuk dan duduk di tempat persis didepan ruanganku, kamu telah menodongku dengan wujudmu, mengikatku dengan pesonamu, dan memejarakanku dalam suatu harapan Tedi!",
"aku menyayangi mu Tedi....", suaranya yang lirih namun tegas mengucapkannya dengan pasti.
Seolah aku ditikam dengan belati berlumur cinta...
Seakan aku terhunus busur beracun yang dibuat dari metal terkuat sehingga mampu meruntuhkan benteng pertahananku...
Mematikan, namun sekali lagi...sebenarnya aku menginginkannya....
"tapi pak....", Ridwan menahanku untuk melanjutkan kemunafikanku, bukan dengan telunjuknya atau telapak tangannya yang membekapku, namun kediamannya yang membuatku gugup.
"Jangan menolak jika itu hanya suatu kebohongan Tedi... Aku yakin kamu sebenarnya tau apa yang aku rasakan, dan katakan aku mengetahui apa yang sebenarnya kamu inginkan...",


Tuhan.... semuanya serba mendadak... apa yang sebenarnya kau ingin perlihatkan padaku?

Aku masih mngarahkan pandanganku kearah pusara ibu dan ayahku...
"Aku masih belum sendiri ayah... ibu...", aku berkata tanpa bersuara.
Aku belum berani menoleh... Aku belum siap membiarkannya melihat tatapanku yang akan berkata: "YA" tanpa harus aku ucapkan.

"kamu tidak perlu menjawab Tedi, karena kediamanmu dan bahasa tubuhmu telah memberikan jawabannya."

Aku berbalik... Dia mendekapku... Tak kuasa menahan tangis, derai air mata kembali melaju...


Sejenak kupejamkan mata, dan berharap apa yang baru saja kudengar dan kualami bukan mimpi yang akan hilang ketika aku membuka kelopak mataku... Bukan khayal yang sirna ketika aku tersadar...


Jauh dibalik pepohonan kamboja bermeter-meter jaraknya...
Sepasang orang tua tersenyum melihat bahwa anaknya tidak sendiri...
Bahwa tugas mereka telah ada yang melanjutkan...
Mereka melangkah menjauh diiringi cahaya cinta dan
dihiasi rona asmara yang kuncupnya mulai merekah...
Love may heal every wound people felt...
And love may kill loneliness which may come to everyone...
No matter how strong he is...
No matter what he can do...

~~~ dan kisah pun berakhir dengan sebuah awal yang baru ~~~

LOVE MAY HEAL | LOVE MAY KILL - Part 8

LOVE MAY HEAL | LOVE MAY KILL
by: Purna Adhiyasa Supriadi
Part 8                                                                                                                                      


Semua yang ada di dunia memiliki batas...
Batas untuk seseorang bersabar...

Batas untuk mencintai seseorang...
Batas untuk meminta dan memberi...
Batas untuk melangkah...
Batas untuk mengejar...
Dan batas udia untuk hidup......
Kali ini ku akui... Mimpi memberikan suatu gambaran akan apa yang akan terjadi...
Walau sebenarnya, aku bukan pemimpi...

Cuti ku perpanjang...
Aku seakan hidup dalam rona pelangi hitam-putih...
tidak ada merah, biru, atau kuning...
Semua serba gelap...
Hanya bayang-bayang wajah dua orang yang kucintai yang seringkali terbersit dalam benak...
Bertahun-tahun ku pasrahkan Ayah di peraduan Tuhan...
Kini, Yang Jembatan Hidup pun menyisakan kenangan akan setiap curahan kasih yang selalu kuingat...

Aku duduk di antara dua pusara, yang lama dan yang baru... yang basah dan yang berbatu... yang pria dan wanita...
"Kenapa tak kau biarkan aku merasakan kasihnya lebih lama, Tuhan?"
Nyaris aku histeris, nyaris aku menghujat dan memaki sang pencipta, andai tidak ada tangan yang meraih pundakku....

"Sabar Ted....."

"Kamu.......?!"


Terimakasih Untuk Hadir di Waktu yang Tepat

LOVE MAY HEAL | LOVE MAY KILL -i Part 7

LOVE MAY HEAL | LOVE MAY KILL

by: Purna Adhiyasa Supriadi

Part 7                                                                                                                                       





"Ketika wanita menangis..itu bukan karena dia mengeluarkan senjara terampuhnya, melainkan justru dia sedang mengeluarkan senjata terakhirnya.
Ketika wanita menangis, itu bukan berarti dia tidak sanggup menahannya, melainkan pertahanannya sudah tidak mampu membendung air matanya.
Ketika wanita itu menangis, bukan karena ingin terlihat lemah, nelainkan ia sudah tidak sanggup berpura-pura kuat."

22:00 WIB


*incoming call tone*
Aku: "assalamu 'alaikum bu,"
Ibu: "waalaikum salam Ted. Kamu sehat disana?"
Aku: "alhamdulillah bu... ibu sendiri sehat?"
Ibu: "tadi siang bu jatuh waktu di kamar mandi Ted, kamu pulang sebentar ya... Udah beberapa bulan kamu tidak menemui ibumu ini."
walau ibu berusaha menutupinya... naluri seorang anak bisa menebak bahwa wanita yang dicintainya sedang terisak...
Aku: "insyaallah bu.. Tedi usahakan."
Ibu: "ibu tunggu ya. assalamu 'alaikum"
Aku: "waalaikum salam"

Aku sayang ibuku... satu-satunya hadiah Tuhan yang tak mampu ku hitung nominalnya...
Setelah ayah... aku belum ingin ditinggalkan ibuku...
Besok aku harus cuti barang dua atau tiga hari...
Sejenak terlintas dalam benakku, bisa jadi kepergianku menjadi sebuah ujian perasaan:

Apa aku akan merindukannya?

Aku mulai terbiasa dengan setiap bayangnya dalam ketidak-sadaranku, atau dalam sadarku sekalipun.
Dia memang terlalu menarik untuk tidak aku bayangkan. Perawakannya, wajah ramahnya, senyum hangatnya, tutur halusnya, segala yang ia lukiskan...
Andai aku bisa memilikinya.....

Malam ini, semua permasalahan berkecamuk dalam benaku...
Seolah semuanya sedang bergelut dalam perang Baratayudha yang maha dahsyat, hampir kepalaku menjadi pecahan gelas kristal bercampur red-wine...
Aaarrrrrggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!!
Kubaringkan tubuh lelahku menyamping dengan harapan migrain ku berangsur-angsur menghilang...
Kuarapatkan kelopak mataku dan kucoba untuk membuka tabir malam dan melangkah menuju alam mimpi, dimana semuanya akan menjadi lebih indah atau sebaliknya...

Kali ini... Potret ibuku yang menemani mimpiku...
Mengajaku bermain-main di tepi sebuah danau berhiaskan pohon kamboja dan hamparan ilalang yang tidak terlalu tinggi...
Dalam mimpiku, ibu mengenakan kebaya putih dan kain batik parang rusak yang melingkar di pinggangnya...
Diatas daun telinga kanannya, terhiaskan sebuah bunga kamboja yang aku petik dan aku sematkan padanya...


Kami bermain...
Kami bercengkrama...
Kami berbagi tawa...
Berbagi kisah...
Berbagi cinta...
Wala semuanya hanya dalam kebisuan...
Ya.. sebuah mimpi yang bisu

Ditengah-tengah waktu ku bersama dengan ibu, tiba-tiba beliau berseru.....
"Itu ayah nak......"

Begitu tampan... Gagah...
Begitu serasi dengan ibu yang tampak lebih muda... cantik...

Dan semuanya berangsur-angsur menjauh... aku seolah terpaku, diam beribu bahasa... aku ingin menggapai mereka, namun mereka semakin menjauh... melangkah menuju suatu titik yang aku tidak bisa mengikutinya....

Ayah....
Ibu.....
Maaf....

LOVE MAY HEAL | LOVE MAY KILL - Part 6

LOVE MAY HEAL | LOVE MAY KILL

by: Purna Adhiyasa Supriadi

Part 6                                                                                                                                       




I wish..
I were there now
on the beautiful garden
not threatened by hanging dark clouds..
but accompanied by encouraging melody
of flute and zither
that could help me
to feel
a glimpse of
whatever
and to find energy
that lead me back
to the right path...
that could enable me
to find an answer
so that I could
whisper it
into your ears
for:
"I like you"


Mungkin kekagetanku harus mulai ku kikis perlahan-lahan...
Kedatangannya lebih awal sepertinya akan menjadi kebiasaan barunya.
Dan aku harus mengaku kalah kali ini...


*Haruskah aku berpikir bahwa waktu pun harus menjadi sebuah kompetisi? untuk sebuah alasan yang tidak jelas*


Sapa aku dengan senyumu...
Salahmu sendiri karena kau mencekoki aku dengan senyum mu...
Yang kini mulai menjadi candu dalam pagiku...
"pagi...", sapa Pak Ridwan lagi-lagi dengan senyum indahnya
*indah???*
"pagi", sapa ku yang masih tertunduk karena rasa malu atas apa yang aku perbuat kemarin.
Haruskah aku malu?
Bukankah itu naluri yang datang tiba-tiba?
Masa bodoh...

Aku harus mampu menyelesaikan aktifitas hari ini dengan datar dan biasa-biasa saja.
Komputer, angka, laporan, dan pulang... tumpangan?
Tiidak...tidak...lupakan hal kemarin...itu hanya kebetulan saja.

Lembaran-lembaran angka yang seharusnya hanya deretan angka dengan banyak nol ini, mengapa tiba-tiba berubah membentuk sebuah potret?
GOD!!!
Fokus Tedi! Fokus!!! Kamu disini untuk bekerja... bukan untuk berkhayal tentang cinta yang biasa kau baca dalam referensi kuliah mu.

...waktu bergulir...

"Ahhhhhhhh............"
Akhirnya aku mampu menarik napas lega setelah semua load pekerjaanku terselesaikan tanpa menyisakan tugas rumah, yang jika aku bawa hanya akan menambah beban dalam hidupku. Aku bukan tipe orang yang senang menunda pekerjaan yang aku bisa kerjakan saat itu juga.

Untuk kali ini aku bisa bangga pada diriku...

Kulirik sekilas ruangan Pak Ridwan melalui celah antara tirai yang melapisi sebuah jendela kaca.
"Sepertinya ia masih sibuk", sebuah guman kesenangan terpancar dari wajahku.
Aku bergegas merapikan semua sisa pekerjaanku dan kemudian melangkah dengan irama cepat menuju koridor dan pintu keluar.

BIIIPPPP......

Sebuah pesan singkat masuk pada telfon genggamku:

AKU TIDAK AKAN MEMAAFANMU JIKA SELANGKAH LAGI KAU MENDAHULUIKU

-R-

,pesan singkat yang mampu menghentikan langkahku seketika, Hebat!


Haruskah aku menunggu?