LOVE MAY HEAL | LOVE MAY KILL
by: Purna Adhiyasa Supriadi
Part 7
"Ketika wanita menangis..itu bukan karena dia mengeluarkan senjara terampuhnya, melainkan justru dia sedang mengeluarkan senjata terakhirnya.
Ketika wanita menangis, itu bukan berarti dia tidak sanggup menahannya, melainkan pertahanannya sudah tidak mampu membendung air matanya.
Ketika wanita itu menangis, bukan karena ingin terlihat lemah, nelainkan ia sudah tidak sanggup berpura-pura kuat."
22:00 WIB
*incoming call tone*
Aku: "assalamu 'alaikum bu,"
Ibu: "waalaikum salam Ted. Kamu sehat disana?"
Aku: "alhamdulillah bu... ibu sendiri sehat?"
Ibu: "tadi siang bu jatuh waktu di kamar mandi Ted, kamu pulang sebentar ya... Udah beberapa bulan kamu tidak menemui ibumu ini."
walau ibu berusaha menutupinya... naluri seorang anak bisa menebak bahwa wanita yang dicintainya sedang terisak...
Aku: "insyaallah bu.. Tedi usahakan."
Ibu: "ibu tunggu ya. assalamu 'alaikum"
Aku: "waalaikum salam"
Aku sayang ibuku... satu-satunya hadiah Tuhan yang tak mampu ku hitung nominalnya...
Setelah ayah... aku belum ingin ditinggalkan ibuku...
Besok aku harus cuti barang dua atau tiga hari...
Sejenak terlintas dalam benakku, bisa jadi kepergianku menjadi sebuah ujian perasaan:
Apa aku akan merindukannya?
Aku mulai terbiasa dengan setiap bayangnya dalam ketidak-sadaranku, atau dalam sadarku sekalipun.
Dia memang terlalu menarik untuk tidak aku bayangkan. Perawakannya, wajah ramahnya, senyum hangatnya, tutur halusnya, segala yang ia lukiskan...
Andai aku bisa memilikinya.....
Malam ini, semua permasalahan berkecamuk dalam benaku...
Seolah semuanya sedang bergelut dalam perang Baratayudha yang maha dahsyat, hampir kepalaku menjadi pecahan gelas kristal bercampur red-wine...
Aaarrrrrggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!!
Kubaringkan tubuh lelahku menyamping dengan harapan migrain ku berangsur-angsur menghilang...
Kuarapatkan kelopak mataku dan kucoba untuk membuka tabir malam dan melangkah menuju alam mimpi, dimana semuanya akan menjadi lebih indah atau sebaliknya...
Kali ini... Potret ibuku yang menemani mimpiku...
Mengajaku bermain-main di tepi sebuah danau berhiaskan pohon kamboja dan hamparan ilalang yang tidak terlalu tinggi...
Dalam mimpiku, ibu mengenakan kebaya putih dan kain batik parang rusak yang melingkar di pinggangnya...
Diatas daun telinga kanannya, terhiaskan sebuah bunga kamboja yang aku petik dan aku sematkan padanya...
Kami bermain...
Kami bercengkrama...
Kami berbagi tawa...
Berbagi kisah...
Berbagi cinta...
Wala semuanya hanya dalam kebisuan...
Ya.. sebuah mimpi yang bisu
Ditengah-tengah waktu ku bersama dengan ibu, tiba-tiba beliau berseru.....
"Itu ayah nak......"
Begitu tampan... Gagah...
Begitu serasi dengan ibu yang tampak lebih muda... cantik...
Dan semuanya berangsur-angsur menjauh... aku seolah terpaku, diam beribu bahasa... aku ingin menggapai mereka, namun mereka semakin menjauh... melangkah menuju suatu titik yang aku tidak bisa mengikutinya....
Ayah....
Ibu.....
Maaf....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar