LOVE MAY HEAL | LOVE MAY KILL
by: Purna Adhiyasa Supriadi
Part 6
I wish..
I were there now
on the beautiful garden
not threatened by hanging dark clouds..
but accompanied by encouraging melody
of flute and zither
that could help me
to feel
a glimpse of
whatever
and to find energy
that lead me back
to the right path...
that could enable me
to find an answer
so that I could
whisper it
into your ears
for:
"I like you"
Mungkin kekagetanku harus mulai ku kikis perlahan-lahan...
Kedatangannya lebih awal sepertinya akan menjadi kebiasaan barunya.
Dan aku harus mengaku kalah kali ini...
*Haruskah aku berpikir bahwa waktu pun harus menjadi sebuah kompetisi? untuk sebuah alasan yang tidak jelas*
Sapa aku dengan senyumu...
Salahmu sendiri karena kau mencekoki aku dengan senyum mu...
Yang kini mulai menjadi candu dalam pagiku...
"pagi...", sapa Pak Ridwan lagi-lagi dengan senyum indahnya
*indah???*
"pagi", sapa ku yang masih tertunduk karena rasa malu atas apa yang aku perbuat kemarin.
Haruskah aku malu?
Bukankah itu naluri yang datang tiba-tiba?
Masa bodoh...
Aku harus mampu menyelesaikan aktifitas hari ini dengan datar dan biasa-biasa saja.
Komputer, angka, laporan, dan pulang... tumpangan?
Tiidak...tidak...lupakan hal kemarin...itu hanya kebetulan saja.
Lembaran-lembaran angka yang seharusnya hanya deretan angka dengan banyak nol ini, mengapa tiba-tiba berubah membentuk sebuah potret?
GOD!!!
Fokus Tedi! Fokus!!! Kamu disini untuk bekerja... bukan untuk berkhayal tentang cinta yang biasa kau baca dalam referensi kuliah mu.
...waktu bergulir...
"Ahhhhhhhh............"
Akhirnya aku mampu menarik napas lega setelah semua load pekerjaanku terselesaikan tanpa menyisakan tugas rumah, yang jika aku bawa hanya akan menambah beban dalam hidupku. Aku bukan tipe orang yang senang menunda pekerjaan yang aku bisa kerjakan saat itu juga.
Untuk kali ini aku bisa bangga pada diriku...
Kulirik sekilas ruangan Pak Ridwan melalui celah antara tirai yang melapisi sebuah jendela kaca.
"Sepertinya ia masih sibuk", sebuah guman kesenangan terpancar dari wajahku.
Aku bergegas merapikan semua sisa pekerjaanku dan kemudian melangkah dengan irama cepat menuju koridor dan pintu keluar.
BIIIPPPP......
Sebuah pesan singkat masuk pada telfon genggamku:
AKU TIDAK AKAN MEMAAFANMU JIKA SELANGKAH LAGI KAU MENDAHULUIKU
-R-
,pesan singkat yang mampu menghentikan langkahku seketika, Hebat!
Haruskah aku menunggu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar