LOVE MAY HEAL | LOVE MAY KILL
by: Purna Adhiyasa Supriadi
Part 3
Bukankah Cinta terlalu indah untuk di terjemahkan
dalam kata, atau dilantunkan dalam melodi,
atau dilukiskan dalam kanvas, atau
sekedar dibayangkan dalam nalar?
Bukan cinta namanya jika bisa ditangkap indera.
Lelahnya hari ini bukan main. Setibanya di ruangan peristirahatanku, butir-butir peluh berjatuhan menjadi aliran sungai kecil di pelipis menuju dagu ku.
"Panas!", keluhku...
*apa aku bilang "keluh"?, hei! aku bukan orang yang suka mengeluh!!*
Kuteguk sisa air minum kemasan dari dalam backpack ku, 'tak cukup menyegarkan', hanya gambar kemasannya saja yang menimbulkan kesar segar, tapi yah.. apa mau dikata, kadang penampilan bisa menipu.
Fenomena singkat tadi mengingatkanku pada sebuah slogan yang sering terdengar olehku saat kegiatan perkuliahan.
"Never read a book by its cover".
"ada benarnya juga", ucapku dalam hati sambil menanggalkan semua pakaianku, melilirkan handuk di pinggangku, dan dengan segera menuju kamar mandi berharap guyuran air bak mampu sedikit menurunkan kadar ke-gerahan-ku.
Saat ini kehidupanku berada pada rute yang lurus dan datar, tidak ada tantangan, tidak ada kejutan, semuanya flat .
Bangun, Makan, Kerja, Kuliah, Pulang, Tidur, kembali ke- Bangun.
*bukankah itu kamu sendiri yang mensetnya demikian?! Tedi...Tedi...Ckckck Kamu pasti menyalahkan keadaan atas apa yang kau alami!!*
Tedi pun memulai aktifitas tidurnya dengan meyakinkan dirinya bahwa alarm clock nya sudah diset dengan benar. Ia kembali membaca novel yang akan menjadi bahan kajian tugas kajian sastranya,
*Mereka Bilang Aku Monyet - Djenar Maesa Ayu*
Tak terasa, dalam hitungan menit, Tedipun terpejam dalam tidurnya, ditemani belaian angin malam yang menidurkan, dan rasa kantuk yang mendongengkannya, membawanya jauh ke alam mimpi.
Tedi.......
Cari Aku.....
Temukan Aku........
Peluklah Aku..........
Jadikan Aku Bagian dari puzzle hidupmu......
Semakin lama... Suara itu bagai dihempas deru angin... lenyap... perlahan......
Namun aku tetap pada pendirianku, Tidur.
Sementara jauh berkilo-kilo jaraknya, seorang pria terjaga dalam lamunannya,
"manis, dewasa di usianya, ramah, menarik!", tersirat bayangan tentang sosok yang ditemuinya tadi siang, dan akan terus ia temui, ditempatnya mengais rupiah.
*Apakah semuanya hanya sekedar kekaguman semata, atau akan berubah menjadi segumpal cinta yang tidak pernah bisa diterka?*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar