LOVE MAY HEAL | LOVE MAY KILL
by: Purna Adhiyasa Supriadi
Part 2
"Ted, neraca keuangan bulan kemarin tolong disiapkan!", sebuah suara dari orang yang aku kenal menyapa di pagi yang mendung.
bukankah alangkah lebih baik jika diawali dengan: "Selamat pagi, apa kabar hari ini?" atau "wah, hari ini mendung ya, sepertinya akan hujan"
Tapi ya sudah lah.. atasan tetap atasan... Namanya pundak tidak boleh melebihi kepala...
Ternyata Pak Ridwan datang lebih awal... *hhmmm.... tidak seperti biasanya*
Tanpa banyak pertimbangan, kusiapkan apa yang beliau minta, sekumpulan kertas berisikan deretan angka yang menunjukan profit perusahaan, dsb. Dan, setelah belasan menit, ku hampiri ruangan beliau untuk menyerahkan berkas laporan yang dimintanya.
Ruangan tertata rapi, aroma yang segar, cerminan pribadi yang apik. Itulah kesan yang kudapat saat memasuki ruangannya.
"Saya perhatikan, akhir-akhir ini kamu datang selalu lebih awal, Ted."
Sebuah komentar basa-basi membuka pembicaraan.
"Oh, iya pak dari pada saya datang terlambat... waktu terlalu berharga untuk dibuang kaena kemacetan"
*bukan akhir-akhir ini kok pak, saya memang biasa datang pagi, malah bapak yang jarang saya lihat masuk awal*
"nice answer!", jawab Pak Ridwan yang masih sibuk dengan kertas-kertas kirimanku.
*tatap mata seseorang ketika berbicara...setidaknya, saya bisa tahu apakah tatapan mu cukup tajam untuk mendobrak hat......akh....pemikiran bodoh*
"bukti pengeluaran dan laporan pemasukannya disiapkan ya, saya mau check setelah makan siang.."
....
...
"Tedy?!"
"Eh, maaf pak... saya terkesima dengan....ruangan bapak"
*nyaris*
"Hmm...bukti pengeluaan dan laporan pemasukan tolong dilampirka, saya tunggu setelah jam makan siang...perlu saya ulang?", sebuah permintaan yang sinis.
"Cukup jelas pak, segera saya siapkan"
Apakah sekedar tipuan mata dan rekayasa suara?
Tidak! Pria tadi memang sorang pribadi yang berwibawa, mengagumkan. Namun sayang, dia Licik! Aku menatapnya saat bercengkrama, namun dia memalingkan matanya pada kertas-kertas itu. Tidak adil! Apakah baginya benda mati lebih berharga daripada menghargai aku?
Siapa aku?!
*apa yang adil di dunia ini?*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar