Wilkomen

WILKOMEN | WELCOME | BIENVENUE | イラッシャイマセ

Senin, 21 Oktober 2013

LOVE MAY HEAL | LOVE MAY KILL - Part 1

LOVE MAY HEAL | LOVE MAY KILL
by: Purna Adhiyasa Supriadi
Part 1                                                                                                                                       




Is there a limit for how much you can love somebody?
No matter how much you hurt him and get hurt by him
You find yourself
far from hating himActualy hope that those wounds will scar like burns...
Because then
both of you can never forget each other
And you'll never be able to leave by his side
Loving someone so madly and helplessly like so
And you think that you'll never have a love like that again.


Sketch: #1 Landscape

by
Purna Adhiyasa Supriadi
Sketch: #1 Landscape by Purna Adhiyasa Supriadi

Bukan sebuah romance bila tak mengurai falsafah cinta...
"Akkhhhh... terlalu rumit", Aku berucap tanpa bersuara...(ku acak-acak tugas penulisan puisi ku)
Tedi, Tedi Wiguna... 22 tahun, itu aku...Sekali lagi Tedi (bukan dengan dua D dan siakhiri Y)
Aku menjalani hari-hariku dengan bekerja sebagai kuli dibalik meja... Setiap hari menghadapi layar terang yang dihiasi angka-angka dan huruf yang menghasilkan rupiah demi rupiah setiap harinya.. (dan rupiah bagiku setiap bulannya).
Sebagian hari lagi ku sisihkan untuk menjalankan amanat mendiang ayah untuk melanjutkan sekolahku ke jenjang Sekolah Tinggi, dan aku pun harus mengisi sebagianku untuk mentejemahkan kata-kata sastra dan terkadang pemahaman-pemahaman para jenius tentang istilah-istilah yang rumit. Kenapa harus sastra, kenapa tidak matematik, ekonomi, atau akuntansi? Bodoh....




Bagiku, kehidupan dimulai saat pertama membuka mata dari tidur panjang yang hanya beberapa jam... Tidur panjang?
(kehidupanlah yang masih panjang...atau pendek?)
Kubasuh setiap inci tubuhku dengan guyuran-guyuran air setengah beku. Bah! Cuma itu kan yang aku bisa?! Mimpi bisa berdiri tenang dibawah siraman air hangat dari shower-shower mewah, atau bermalas-malasan didalam bathub... entah benar atau tidak aku menuliskannya...


Kutatap dalam-dalam binar mataku sendiri dalam patahan cermin yang kuanggap artistik dalam kamar se-petak-ku. Bulat, hitam kecoklatan, tidak ada yang spesial. Hanya sisa-sisa dari tatapan kepenatan dan binar kehampaan akan.............entah apa.


Sepatu hitam warisan, Tas berisikan kertas-kertas kepenatan, kotak penyimpanan data yang ukurannya kecil dan biasa ditanam di komputer, semua siap... Apa lagi? (Mobil mewah...Mimpi, Taxi...sok kaya, Ojek...Hhhmmm.....Sepeda.........Kaki)
Kutapaki tepian jalan yang sesak oleh hilir mudik orang dan pedagang kaki lima yang mengais rejeki tanpa mempedulikan papan peringatan yang ada... (aahh... lagi pula, apa yang memmbuatnya peduli?)


Seusai menandatangani absen, akupun mulai menjalani rutinitasku... Dan kutinggalkan sejenak ceritaku karena pekerjaanku terlalu memusingkan jika harus kuterjemahkan.........


*Aku Sadar Sepasang Mata Mengarah Padaku Dari Suatu Sudut*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar